Kamis, 29 November 2012

Revaan ..


REVAAN ..

Hampir setiap hari aku berharap, Tuhan akan bantu aku menyelesaikan semua masalah ini. Rasa sakit hati ini biarlah ku jadikan pelajaran untuk ku di masa depan, dimana aku harus memperbaiki kesalahan yang pernah ku lakukan sebelumnya.
Setelah kejadian ini aku harus bangkit, aku harus berusaha sekuat tenaga ku untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, dimata ku, orang tua ku, mereka dan Sang Pencipta. Belajar dari kesalahan memang sulit diawal tapi aku yakin suatu saat aku berhasil menjadikan semua ini sebagai kenangan belaka.
Layaknya artis di televisi, mereka memerankan karakter yang bukan dirinya. Mungkin akan lebih baik bila aku seperti mereka yang hidup dalam diri yang bukan dirinya. Kini aku bukanlah orang yang bisa percaya pada janji manis yang di ucapkan setiap Pria.
“Sy, masih disini? Mba pikir kamu udah pulang bareng Deva.” Kata Mbak Westi
“Aku males pulang cepet, Mbak .. “ ucapku meneguk moccacino terakhirku.
“Kalo gitu ikut Mbak Westi belanja aja, Mbak juga males pulang cepet.” Katanya senyum-senyum
“Aku engga percaya Mbak mau belanja, palingan Mbak ke CafĂ© itu lagi en makan-makan sama temen-temen Mbak yang berisik itu.” Aku menenggelamkan kepalaku diantara tumpukan berkas Naskah-naskah yang akan ku baca nantinya.
“hehehehe ketauan deh .. eh tapi Mbak seriusan deh kamu engga bakal nyesel ikut Mbak hari ini.” Senyumnya membuat ku semakin ragu
“Mbak duluan deh, bentaran lagi aku pulang kok.” Aku melemparkan senyuman agar Mbak Westi tidak lagi memaksaku ikut dengannya.
“Ya udah, kamu ati-ati, Mbak duluan ya Sisy …” ia melambaikan tangannya yang berisi itu.
Mbak Westi adalah Atasan ku, ia seorang Editor di Kantor ku. Aku menyukainya, dia menyenangkan saat aku kesulitan dalam pekerjaanku ia pasti turun tangan membantu ku, yang paling tidak kusukai darinya adalah ketika ia mengajak ku pergi ke suatu tempat yang isinya hanya Makanan dan orang-orang yang tak kalah heboh dari Mbak Westi, Astagaaa apa setelah ia menikah ia masih akan seperti ini?
Menikah .. Ya, ku rasa semua orang akan menikah. Tapi tidak untuk ku, tidak untuk saat ini. Rasa yang kemarin saja masih begitu terasa menikam jantungku. Orang yang ku anggap dapat membimbing ku dalam bahtera rumah tangga ternyata telah bertunangan jauh sebelum dengan ku. Sakitnya mungkin tak seberapa di banding dengan teriris sebilah pisau, hanya bilamana aku teringat akan janjinya yang telah ia ingkari ingin sekali aku melemparnya kedalam jurang.
“Sisy ?” seseorang menyerukan namaku
“ya?” aku rasa aku tidak mengenal wajahnya
“Revan. Revan Hardian, kita pernah satu kelas waktu kuliah dulu.”
“Revan?” aku berusaha mengingat. “Oh, ya Evan Jurnal 3 kan? Oke oke inget sorry sorry ..”
“It’s oke. Lu kan memang rada pelupa kalo suruh inget orang..” ia meledek ku.
“Hahaha iya, sorry .. “ kata ku
Baik, aku benar-benar akan pulang terlambat sepertinya, Revan mengajak ku makan malam. Nostalgia katanya.
“gue bener-bener engga nyangka pulang ke Pulau Jawa ketemu sama Lu lagi. Gimana kabar Risa, Wati dan temen-temen yang lain ya?” celotehnya
“Entah yaa, gue juga lama engga ketemu mereka.” Kataku
“Sudah menikah? Atau akan menikah dalam waktu dekat?” pertanyaan nya membuat ku seradaa emosi.
“Kenapa? Gue salah ucap?” katanya lagi
“Engga, engga apa-apa. Mungkin kita engga usah ngomongin itu sekarang.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan itu.
“Sorry, gue rasa obrolan tadi buat lu engga nyaman. “ aku hanya tersenyum saat ia mengucapkannya dan segera mengalihkan obrolannya.

***
Malam ini rasanya sangat dingin sekali setelah hujan mengguyur bumi kita yang mulai gersang ini. Revan mengantar ku pulang kerumah karena ia khawatir kalau aku pulang naik taksi. Ia masih sama seperti 2 tahun yang lalu saat Wisuda. Stay Cool J
“Besok-besok aja gue mampir ke rumah lu nya Sy. Ini udah malem, engga enak sama bokap lu. Bye.” Ucapnya saat ku tawarkan untuk sekedar mampir.
“Bye, ati-ati, van.” Aku melaibaikan tangan ku.
Saatnya istirahat, aku sudah lelah sekali. Dan ingin segera besok pagi, karena aku harus menyelesaikan pekerjaan ku, mencari naskah cerpen yang akan majalah-ku posting.
Dreeett .. dreeet … ponsel ku bergetar.
021-
Met istirahat, sy.
Besok aku jemput di kantor.

                  22.00 23-11-2010

Radit. Kulemparkan ponsel ku, lalu tidur. Aku tidak peduli Radit akan datang atau tidak. Aku membencinya.

***

“Sy, ada yang nyari noh, katanya mau jemput.” Mbak Westi meneriaki ku
“Loh emangnya udah waktunya pulang ya, Mbak?” Tanya ku dari balik meja ruang kerja ku
“Belum sih, tapi dia nunggu tuh di lobby.” Katanya lagi
Malas-malasan aku berjalan menuju lobby. Radit. Ya, tadi malam dia memang bilang akan menjemputku, tapi tak ku kira ia benar-benar akan datang.
“sibuk banget ya, sampe-sampe aku harus nunggu cukup lama disini?” omelnya.
“anda bukan siapa-siapa saya, jadi anda tidak berhak mengomel engga jelas disini.”
“Sy, ini salah paham, aku minta maaf. Aku akan tetap menikahi kamu, jangan percaya omongan orang sayang, mereka sirik sama kita.” Ucapnya ngebaik-baikin aku
“Baik, jika sudah tidak ada yang akan anda bicarakan segera tiinggalkan kantor kami karena saya sedang sibuk.” Aku berbalik dan ..
“Menikah lah dengan ku, sy ..” teriaknya sampai-sampai semua orang di lobby menatap kearahku termasuk Revan yang tiba-tiba muncul.
“Pak Satpam tolong usir orang itu, dia  mungkin salah orang.” Aku bergegas meninggalkan lobby setelah meminta satpam kantor menggeret keluar radit.
Taman kantor satu-satunya tempat aku bisa menenggelamkan perasaan kacau dalam hati ku. Kurasakan ada yang menatapku dari kejauhan. Revan, ia mendekat kearah ku.
“jadi orang itu yang buat teman gue kaya gini ya ? jangan pendem perasaan sakit lu, sy. Nanti bisa stress ..” ucap revan
“Gue udah cukup stress ngehapadin dia, van. Jadi gue mohon jangan bahas dia ato masalah ini lagi.” Kataku hendak beranjak. Revan menahan lengan ku, lalu menatapku dan mengajak ku pergi keluar kantor. Sepanjang perjalanan aku tak mengucapkan sepatah katapun beggitu juga REvan. Ia juga terdiam.
“Sorry, harusnya gue engga bawa lu keluar kantor.” Ucapnya tiba-tiba
“engga papa, gue memang butuh keluar secepatnya dari kantor karena radit masih disana. Iyakan? Makanya lu bawa gue keluar lewat samping.” Kata ku. Ia hanya tersenyum.
“khawatir dia melakukan hal yang ngerugiiin lu, makanya tadi gue ijin bawa lu keluar dari kantor.” Sesekali ia menatapku, aku merasakannya ujung matanya mengarah kepada ku.

“Udah malem, lu istirahat sana, besok pagi gue jemput yah, gue udah bilang sama bokap lu kok, lu emang harus tetep diawasin bokap lu ya, sy. Hahahaha” katanya tertawa meledek
Ku dorong saja badannya sampai terjungkal ke bawah, lalu kami tertawa. Siang tadi ia mengantar ku pulang, dan kami malah asyik main playstations dengan adik ku. Hari ini begitu menegangkan dan menyenangkan untuk ku, Revan mengerti posisi dan keadaanku saat ini.
“gue pulang, lu istirahat. Daah, Sisy .. sampe ketemu besok.” Senyumnya membuat hati ku bergetar, dia mengecup keningku dan mengelus rambutku kemudian lalu melajukan mobilnya dan menghilang di belokan gang rumah ku.
Revaan ..
Revaan Hardian .. J


Rabu, 06 April 2011

Pertemuan Singkat

Tepat Pagi di Hari Senin . Hari pertama di awal minggu ini aku harus ekstra semangat, kerjaan ku akan bertambah dalam minggu ini, ya hanya minggu ini aku ekstra bekerja, itu yang Bos ku katakan. Sebenarnya aku sangat malas bekerja kalau hari senin. ckckck
"Sya, saya mau kamu ke rumah ambilkan berkas di kamar saya. minta tolong bibi atau mamah saja. ini kunci kamar saya." Ucap Bos ku tanpa berpaling dari laptopnya itu. 
"Iya pak." kataku mengambil kunci itu.
"Eh, pakai mobil saya saja, bisa kan ?" katanya lagi berjalan mendekat kearahku dan memberikan kunci mobilnya.
terkadang Boz ku ini terlihat seperti anak kecil, tapi kadang aku melihatnya seperti monster galak tapi tetap baik pada siapapun.

sejam kemudian, saat aku mengendarai mobil Bos ku mengirim pesan singkat pada ku, dia mengatakan bahwa -dia sedang ada di Cafee milik Kakak ku, dan dia minta di jemput.- apa-apaan ini ? orang itu ada-ada saja. aku memutar balik ke arah berlainan menuju Vikaa Cafe. Nama Singkat Aku dan Kakak ku, Kasyafani dan Selviani ..
"Lama banget sih!" kata Pak Rafa menghampiriku.
"ini ngebut ko, Pak. Bapak aja engga sabaran." gerutuku. Bos ku ini umurnya hanya beda 4 tahun dengan ku, sekitar 28 tahunan umurnya. kelakuannya ngeyel, nanti kalau dia salah baru bilang "iya ya sya. coba saya ikutin saran kamu." hah, menyebalkan sekali dia.
kakak ku hanya tersenyum dan mendadahi aku dari jendela kantornya, belum lama ini dia melangsungkan pernikahannya.


"Sya, nanti malam temenin saya pergi ke undangan mantan pacar saya ya." celetuknya.
"Hah ? engga ahh. itu kan mantan pak rafa, kenapa saya harus ikut. emangnya bapak engga punya pacar apa?" kataku serada kesal.
"justru karena saya engga punya pacar saya ajak kamu, dodol!" katanya seenaknya mengejekku. bos ku yang satu ini seenaknya kalau bicara denganku. kami seperti teman saja kalau di luar kantor. bahkan aku memanggilnya aa, kalau sedang jalan denganya.
dia mencoba merayuku dengan menjanjikan akan menemaniku pergi menengok orang tuaku minggu depan. 'yes, jadi aku engga usah cape-cape nyetir, hahaha' tawa jahatku.
"oke deh. aa mau jemput jam berapa ?" kataku.
"habis sholat mangrib saja ya." katanya.

Malam itu aku sedikit ragu ikut bersama Bos ku, pasti aku dicuekin sama si dodol itu.
"jangan tegang dong, biasa saja, santai." celetuknya. ingin sekali aku menjitak jidatnya yang nongnong itu. gggggggrrrrrr !
di dalam sana semua orang memperhatikan aku, apa ada yang salah denganku? 
"Rafa !!" panggil seseorang.
"ah, lu man. kangen gw sama lu, apa kabar lu ? temen-temen yang laen dateng kagak?" katanya. lelaki yang memanggil Aa Rafa itu melihatku dengan tatapan seolah-olah aku ini aneh.
"sejak kapan lu pacaran sama cewek polos?" bisik lelaki itu tapi aku bisa mendengarnya.
"hahahaha, dia bukan pacar gw, dia ini temen sekaligus sahabat gw. kita temen ya sya." ia tersenyum padaku dan aku hanya terseyum tanda mengiyakan ucapannya.
Ternyata semua orang pikir aku ini adalah pacar Aa Rafa. aku pikir aku salah kostum atau aku ini aneh gitu, huh.

sebulan setelah malam itu.
"Sya, temenin aa yuk, kita jalan. Aa lagi Bosen di rumah." kata suara disebrang sana.
"Hah, perasaan Bosen melulu dah .. " kataku.
"yeey, serius nii, ayo lahh nanti kita makan es krim, mau engga?" rayunya.
"Oke deh, aku suka es krim." kataku menyetujuinya, aku pasti tergoda jika di ajak makan Es krim. lagian hari ini hari libur, cafee juga lagi tutup, persedian habis. jadi aku bisa pergi menemani orang itu.
brmmm brmmmm, tinn tinn ..
suara klakson motor itu mengganggu ku menonton televisi. aku pikir itu suara motor pacar tetangga depan rumahku yang selalu gonta ganti itu, ternyata orang aneh itu sudah ada didepan rumahku, tumben sekali orang itu pergi dengan motornya.
"Mas, Mas, Mas. Tolong ya, berisik ni." kataku sambil tertawa menggodanya.
"Enak aja, kamu pikir Aa Mas-Mas apa?" ia memarkirkan motor dan duduk di sebelahku. "kamu mau pake baju itu perginya ?" celetuknya sambil melihatku aneh.
"engga mungkin lah! bisa-bisa cewek-cewek pada ngamuk gara-gara cowok-cowoknya suka sama aku." kataku PD (percaya diri-red)
"Lagian kamu oon .. Aa udah disini kamu masih aja pake celana pendek gito, ganti sana dodol. dandan yang cantik!" katanya mengacak-ngacak rambut ku. aku lalu pergi masuk dan mengganti pakaian ku, modal celana jeans dan kaos plus sewater cukup, berangkaaat !!
"Peluk, nanti jatoh suruh ganti rugi lagi." katanya saat aku duduk diatas motor besar itu.
"engga mau ! maunya tuuuh di peluk sama aku." kataku menunjuknya sambil tertawa.
"bodoh, pakai helmnya dan peluk." katanya menarik tanganku dan melingkarkan diseputaran perutnya. "Oke, berangkat ! bismilahirohmanirohim ." ucapnya.
sebenarnya aku suka padanya, anak yang sholeh dan sayang keluarganya. meskipun dia bos di kantorku, dia bahkan tidak pernah sombong. 
"Sya, kamu suka es krim ini yah ?" katanya sambil menyantap es krimnya.
"Iya, aku suka eskrim vanila strawbery, hmmm .." kataku menggoda.
"suka juga engga sama Aa?" celetuknya tanpa henti melihatku yang sedang makan es krim.
"suka, suka banget Aa sholeh sih, terus baik lagi suka ngajakin aku makan es krim disini." ucapku tersenyum. lalu dia menyantap es krimnya lagi, sekarang giliran aku yang menatapnya, seperti ada sesuatu yang aku engga tahu.
"Aa juga suka sama kamu, oon, dodol, tapi otak kamu encer juga ya bisa ngerjain tugas-tugas kantor." katanya tertawa, kami tertawa sambil menyantap es krim.
"jadi ini cewek yang kamu puja itu fa? Udik !" sambil menunjuk aku dan menatap Rafa kejam, dan lalu Rafa berdiri marah.
"Iya. gw suka sama dia dan gw sayang sama dia, bahkan gw cinta sama dia. Puas!" Jawab Rafa Tegas. aku berdiri bingung, apa maksudnya semua ini?
"denger ya Na. Jauhin gw dan Jangan Pernah MUNCUL di hadapan gw atau cewek gw!" bentaknya saat wanita itu marah-marah pada Rafa. lalu ia menarik tanganku membayar es krim dan mengajak ku pergi dari situ. aku masih diam, entah apa yang aku pikirkan. selama diperjalanan pun Rafa maupun aku tidak bicara sama sekali. Rafa membelokan motornya kearah Taman, dan parkir. masih tampak marah.
"engga bisa apa ya liat orang seneng dikit, ada aja yang bikin kesel. lagi enak-enak makan es krim juga." celotehnya. apa? aneh sekali orang ini, tadi dia marah sekali tapi sekarang dia menyesali pergi dari tempat es krim tadi? Astaga! dia benar-benar aneh.
"cewek itu siapa a? pacarnya ya?" kataku sambil meneguk air mineral yang Rafa kasih ke aku.
"Iya, tadinya. aku pacaran sama dia sekitar 6 bulan lalu, kami putus karena aku liat dia pelukan sama sahabat aku." kenangnya, "sudahlah, ngapain ngomongin cewek gila cowok gitu. bikin pusing aja, " katanya berjalan cepat.
"kita mau kemana?" tanya ku mencoba mengejarnya.
"cari es krim, seenggaknya cari makanan apa gitu. kita jajan aja sambil main-main disini." katanya tersenyum.
"oke" kataku masih dalam keadaan setengah bingung dan engga percaya. tadi terlihat marah, lalu tampak bodoh sekali, dan barusan dia terlitah sedih dan tiba-tiba sebiasa ini? dia sangat bisa menyembunyikan perasaannya.
seharian aku dan Rafa main-main sampai handphone ku bunyipun tak terdengar oleh ku, banyak Missed Calls dan Messages di handphoneku. ternyata salah satu sahabatku menggodaku karena dia melihat aku dengan Rafa. dia pikir Rafa pacarku, dia bilang aku harus mengenalkan rafa pada dia dan sahabatku yang lain nanti saat berkumpul. Rafa malah tertawa saat aku bilang padanya.
"bilang aja iya, nanti kamu kenalin aku sama temen-temen kamu itu. gampangkan, siapa tahu aja ada yang mau jadi pacar aku, kamu juga boleh deh kalau mau jadi pacar aku." katanya menggodaku. si Bodoh itu terus saja tertawa dan menggodaku, lelaki itu bahagia sekali jika aku sedang susah.
"sya," katanya meutupi badanku dengan jaketnya karena ini sudah sore sekali, adzan isya pun sudah terdengar. "abis sholat kita nyari makan lalu pulang oke." katanya mengusap rambutku. aku mengiyakan dan masuk ke mesjid yang sama saat sholat magrib, begitu juga Rafa.
"ayo, kita cari makan. kalo kenapa-kenapa bahaya ini anak orang" katanya menggoda ku."
"Kebiasaan kan, hobi banget sih ngegodain orang!" kataku setengah berteriak. akhirnya aku dan Rafa menemukan tempat makan, Nasi Goreng pinggir jalan itu ramai pengunjung dan katanya enak banget. Rafa makan lahap sekali malam ini, sepertinya dia sangat lapar setelah seharian main-main, aku juga lapar sekali malam ini.
"sya, " katanya memegang tanganku saat diperjalanan pulang.
"hmm?" jawabku
"kamu tahu apa yang tadi aku omongin sama cewek itu tadi siang?"
"ya, kamu bilang gini -Iya. gw suka sama dia dan gw sayang sama dia, bahkan gw cinta sama dia. Puas!, gitukan?" kata ku sambil memperagakan gaya Rafa nunjuk-nunjuk wanita itu.
"hahaha, kebiasaan deh kamu sya, selalu meragain apa yang kamu liat, lucu tahu engga. aku jadi suka sama kamu." katanya sambil tertawa. aku ikut tertawa tanpa tahu mengerti apa yang dia bicarakan karena aku merasa sangat mengantuk.
"kamu masuk gih, terus istirahat." katanya sesampainya di halaman rumah ku. "mimpi indah yaa" katanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku. aku membuka pagar dan masuk.
"hm sya !" panggil Rafa.
"ada apa lagi ?" katku berbalik.
"Aa sayang kamu.." tersenyum dan menstater motornya lalu menghilang di ujung komplek rumahku.
aku bingung sampai-sampai terbawa mimpi saat Rafa bilang sayang padaku. astaga ! orang itu bukan cuma aneh, tapi mengganggu tidurku.

sore itu saat Rafa mengajakku makan es krim di tempat biasa, dia seperti orang bingung dan hanya terdiam, aku sangat aneh melihatnya, secara Rafa yang cerewet itu sore ini bahkan seharian ini aku tidak melihatnya melucu seperti biasanya.
"Kamu kenapa sih a ?" tanyaku
"engga. kenapa emang? ada yang aneh!" jawabnya menatapku. aku hanya menggelengkan kepalaku. kalau aku bilang iya mungkin dia akan tersinggung.
"maaf ya." katanya. kini aku yang menatapnya, "mungkin buat kamu ini aneh atau apa ya, tapi aku mau kamu tahu, kalau aku ... (uhukk)" dia menghentikan ucapannya dan terus terbatuk.
"engga bisa pelan-pelan sih. sini .. "kataku mengusap seputaran bibirnya yang belepotan es krim karena batuk tadi. dia memegang tanganku, "Makasih ya sya." katanya, aku hanya mengangguk dan melanjutkan makan es krim ku sambil terus memperhatikan Rafa yang dari tadi seperti gelisah.
"kamu sakit a?"tanyaku, dia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"aku sayang kamu sya, was merried to me.." ucapnya menatap dan menggenggam tanganku. aku berhenti menyantap es krim ku, aku benar-benar tidak bisa berucap apa-apa. aku syok, aku kaget, engga tahu harus berbuat apa.
"mungkin kamu pikir ini terlalu cepat untuk kita sya, tapi aa yakin kamu juga punya perasaan yang sama buat aa .." katanya terus menatapku tanpa berpaling sedikitpun.
"hm .. tapi a .." aku menghentikan ucapanku, aku memang menyukai bos ku ini, tapi ..
"aa engga lagi becandaa kaan ??" tanyaku membuatnya tertawa ..
"aa tahu kamu pasti bilang gitu. aa serius sya .." katanya mendadak serius raut mukanya.
aku berdiri dan melangkah, seketika itu juga raut wajah kekecewaan di wajah Rafa.
"aa tahu .. "Kataku So serius. "aku engga mungkin nolak aa, karena aku juga sayang aa.." kataku dan Rafa langsung berdiri dan memelukku lalu mencium keningku.
ini terlalu cepat untuk ku, memang. pertemuan yang singkat, dalam wktu beberapa bulan kedekatanku dengan Rafa, akhirnya kami berdua mengakhiri masa lajang kami. dalam waktu dekat keluarga Rafa melamarku dan kami akan menikah. tak pernah ku sangka, sejak aku memutuskan untuk sendiri justru aku akan menikah ..
terima kasih Tuhan, terima kasih cinta .. :) hati ini telah terisi nama seseorang yang kini ku cintai dan mencintai aku. inilah kebahagian dalam pertemuan yang singkat .. :)

Kamis, 31 Maret 2011

mamah untuk sisy kecil ..

Malam itu di depan komplek tempat tinggalku, aku mendekati kerumunan orang-orang, "ada apa mang udin?" tanya ku pada salah satu pedagang di komplek ku itu. "itu neng, ada yang digebukin sama preman-preman yang waktu itu." katanya serada merinding. aku dekati kerumunan orang itu, makin dekat dan, "astagfirullah, Pak Vito.  saya kenal dia, tolong bantu bawa kerumah saya." kataku kaget melihat siapa yang digebukin preman-preman itu.
Sesampainya dirumah ku, langsung ku ambil air es untuk mengompres memar di mukanya Pak vito. dia bos ku, aku sedang training di kantornya. "bapak ko bisa ada disini?" tanya ku serada khawatir sambil terus mengompres wajahnya memarnya. "saya hanya berjalan-jalan saja, " katanya singkat. Bos ku ini memang sangat diam, bahkan tampak jarang senyum. seperti menyimpan luka di hati , seperti orang patah hati.
"Neng Iva,  itu mobil Bapak ini tadi Mang hasan bawa kesini, ini kunci mobilnya pak." kata mang hasan satpam komplek.
"makasih ya mang." kata ku mengambil kunci mobil dari tangan mang hasan. "bentar ya pak, saya tinggal." kata ku pada Pak Vito.
setelah aku mengganti pakaianku, aku langsung membawa Pak vito ke mobilnya dan ku antar kan pulang.
"rumah bapak dimana ? saya antar bapak pulang," kataku saat di mobil berusaha tersenyum tapi dia malah cemberut, menyebalkan.
"terus saja, nanti belok kiri, lurus, belok kanan, lurus, nanti belok itu rumah saya."katanya tanpa ekspresi. aku menurut saja, karena dia bos ku. ku lajukan mobil sesuai yang dia katakan padaku tadi, dan akhirnya dia memintaku untuk membelokan mobilnya kesebuah rumah yang nampak luar sangat bersih dan rapih. 
"ayo masuk," katanya. aku mengikutinya sambil memapah tubuhnya yang kurus tapi berat sekali untukku.
"astagfirullah, vito. kamu berantem nak ?" tanya wanita setengah baya panik.
"engga ko mah, tadi ketemu preman terus ya gini jadinya." katanya lalu duduk "ini iva, anak training yang aku ceritain ke mamah. dia yang bantu vito tadi, dia tinggal di tempat vito dikeroyok." katanya datar. "sisy mana mah ?" katanya lagi. Sisy ? siapa ya ? 
"itu lagi disuapin sama bibi, dari tadi engga mau makan. mamah bingung deh," katanya sambil menyodorkan minuman padaku dan anaknya Pak vito.
"papaah .." suara imut itu membuatku berbalik dan ingin memeluknya. lucu sekali, cantik.
"sini sayang, hmm. anak papah ko engga mau makan sih ?" katanya memanja pada anak kecil itu.
"sini sama tante makannya, mau ?" kataku begitu saja. anak itu menatapku lalu turun dari pelukan papahnya dan mendekati aku mimintaku untuk menggendongnya, "sini, sama tante. yeeeeyyy .." kataku senang dan memangkunya, lalu ku suapi anak itu, lahap sekali. sampai-sampai semua orang menatapku. aku juga bingung dia mau dekat dengan orang yang bahkan baru a temui malam ini.
"makasih ya va . kamu bukan cuma bantu vito, tapi bantu sisy makan juga, sampai lahap  dan langsung tidur." kata wanita setengah baya yang di panggil mamah itu. 
"sama-sama bu, saya juga sebenernya engga suka anak kecil tapi waktu liat sisy pengen banget peluk anak itu, " kataku tersenyum mengingat aku tak suka anak kecil.
banyak bicara aku dengan ibu itu, sangat ramah. aku juga bertemu ayahnya pak vito, kakak perempuannya yang ternyata seorang dokter di rumah sakit yang sering aku datangi. 

pagi ini aku harus bangun lebih awal, aku harus mengantarkan mobil yang pak vito pinjamkan kepadaku semalam untuk pulang. sholat subuh, beres-beres rumah, mandi, sarapan dan berangkat. oh ya, aku tinggal jauh dari orang tuaku sejak kuliah, aku tinggal dirumah ini bersama kakakku, tapi semenjak ia menikah aku jadi tinggal sendirian dirumah pemberian ayahku ini. 
tiin tiinn ..
suara klakson mobil di halaman rumahku. siapa pagi-pagi gini datang? 'batinku.
pak vito dan sisy? ada apa ini ?
"Pak, sisy ? ada apa pagi-pagi sudah datang? saya kan akan mengantarkan mobil bapak kerumah bapak?" kataku agak syok melihat mereka sudah bertamu pagi-pagi. 
"sisy nyari kamu dari bangun tidur tadi." katanya memberikan anak itu pada ku. aku keheranan. "saya juga engga ngerti kenapa kamu yang dia inget bangun tidur tadi, biasanya juga dia langsung ke kamar saya mencari saya." katanya serada cemburu anaknya mencariku. aku masih juga keheranan. anak itu memelukku erat. ku persilahkan duduk dan ku bawakan minuman hangat ke ruang tamu untuk tamuku pagi ini. masih dalam keadaan keheranan aku terus menatap kedua orang yang kini ada dihadapanku.
"kamu bingung, saya apa lagi." katanya menyeruput teh hangat. anak kecil itu terus dekat-dekat denganku. lalu kutanyai dia mengapa mencariku? dia hanya memelukku, ku tanyai lagi mengapa dia memelukku, dia semakin erat memelukku. aku mencoba meminta penjelasan pada papahnya,  dia juga tidak mengerti. aku pasrah, anak ini menyukaiku sepertinya.

seharian di tempat ku bekerja anak itu menemaniku, manis sekali sikapnya, dia bahkan tidak mengganguku bekerja, papahnya yang sesekali masuk ruangannku pun nampak bingung dengan sikap anaknya itu. bukan, bukan hanya aku dan papahnya yang keheranan melihat anak itu, tapi pegawai sampai satpam dan keluarganya yang datang ke kantor karena khawatir pada anak itu kehaeranan, jangan tanya aku, ku mohon .
anak itu hanya duduk memainkan mainan yang dia bawa tadi kerumahku, dan memeluk pigletku yang dia ambil dari kamarku. aku tak mengerti mengapa anak itu hanya diam, tidak menangis bosan, mengantuk atau pingin mimi. bahkan diajak pulang oleh omanya sama ia tidak menggubris. anak itu hanya senyum lalu asyik memainkan boneka dan mainan yang ia bawa, lucu sekali.
"sisy makan yu, tante laper nih, mainannya udahan dulu." kataku duduk disampingnya dan menggendongnya mengajak anak itu makan.
"cici mau itu," tunjuknya setelah makan di cafetariia sebelah kantorku. Es krim. aku suka es krim. 
"cici mau itu? tante juga mau donk." kataku. saat memilih es krim pak vito menatapku dan anaknya,
"kalian kompak banget sih?" katanya agak cemburu anaknya lebih dekat padaku. sebenarnya aku agak tak enak hati mendengar ucapannya, tapi mau bagaimana anaknya mengikutiku saja.
"sisy pulang sama papah ya, besok kita main lagi." kataku saat jam pulang kerja. sisi diam menatap papahnya, lalu memelukku dan turun dari pangkuanku. lega rasanya anak itu mau pergi dengan papahnya. 
"saya antar kamu pulang, va. sisy pasti seneng pulang bareng kamu," katanya menggendong anaknya.
"engga pak, makasih. nanti kalau saya ikut bapak, nanti sisy mau ikut saya turun lagi." kataku seraya tertawa kecil. ia berpikir lalu mengangguk.
"Iya ya benar. ya sudah, hati-hati ya va." katanya, "dadah sama tante sayang," lanjutnya, anak itu mendadahi aku, senang sekali rasanya aku pada anak itu.

hari ini adalah sebulan aku dekat dengan keluarga bos ku dan hari terakhirku training dan menunggu keputusan dari Bos ku itu. anak itu sudah bisa bicara lantang meski kadang tak jelas, anak usia 1 tahun setengah itu bahkan sering bermalam dirumahku, dan setiap hari libur (sabtu-minggu) Pak vito selalu mengajakku pergi bersama anaknya itu, ibunda pak vito pun sering datang kerumahku untuk menjenguk aku dan cucunya itu juka bermalam dirumahku. sudah seperti keluarga sendiri bagiku. 
"cici, mau tante .." katanya di telpon saat papahnya menelponku sebelum sisy tidur.
selalu setiap malam menelpon ku, sampai-sampai kadang aku sengaja tidak mengangkatnya dan pernah aku pura-pura tidur dan tidak mendengar suara telpon, sisy datang kerumahku malam-malam. dibuat pusing aku dengan keadaan seperti ini.
sampai suatu waktu saat aku menengok anak centil itu dirumahnya, celoteh anak-anak dari kakak-kakanya Pak vito itu menghiasi suasana rumah itu, tiba-tiba ..
"mamah .." panggilnya. aku menatap anak yang ada dipangkuanku itu, terharu sekali aku di panggil mamah oleh anak itu, bahkan keluarganya mencoba menjelaskan kalau aku ini bukan mamahnya tapi tantenya, ia masih saja tetap memanggilku mamah. banyak kejadian-kejadian yang baut aku terharu setiap bersama anak itu, aku mulai menyayanginya, sejak saat itu ia selalu memanggil ku mamah. bahkan saat aku memutuskan untuk tidak bekerja lagi di tempat Pak vito anak itu selalu mencariku dan memanggilku mamah. 

"Va, sisy sakit." kata Mas Vito. sejak dekat dengan anaknya dia memintaku memanggilnya Mas.
"Sakit apa mas? dimana sisy sekarang?" tanya ku khawatir.
Mas Vito menjelaskan setelah beberapa minggu ini setelah aku tidak menemuinya karena sibuk mengurus bisnis di cafee yang baru saja ku jalani itu, ia selalu mencariku. beberapa hari belakangan ia menangis ingin bertemu dengan ku tapi aku sedang di luar kota, makanya ia jadi jatuh sakit. demi bertemu anak itu, ku tinggalkan pekerjaanku hari ini.
melihat anak yang belakangan aku kenal sangat centil dan lucu itu terbaring di tempat tidurnya menungguku datang, lalu ku peluk dia, panas tubuhnya buat aku sedih, aku merasa bersalah sekali berminggu-minggu aku tidak menemuni anak ini. saking terharunya aku meneteskan air mata, apalagi saat dia memanggilku mamah, rasanya hatiku ini campur aduk..
"hmm, badanya panas. udah makan sayang?" tanyaku padanya. dia hanya menggeleng. sedih hatiku melihat keadaannya.
"dia ga mau makan kalau bukan kamu yang suapin va," kata Mas vito masuk dan memberikan ku semangkuk bubur untuk sisy. lalu tanpa banyak bicara ku suapin anak centil itu, ya seperti biasanya ia selalu lahap setiap kali aku yang suapi. lalu dia ku suruh istirahat lagi, dan aku berjanji tidak akan meninggalkannya sampai dia bangun nanti. dalam pelukan Mas vito aku menangis tak kuasa jika terus menjalani semua yang seharusnya tidak terjadi.

setelah beberapa hari sisy terbaring di kamarnya, kini dia ada di kantorku, menemaniku mengerjakan pekerjaan yang sempat aku tinggalkan. dia tampak kurus sekali setelah sakit kemarin, tapi aku yakin, dia pasti tumbuh lagi menjadi anak centil yang chubby. seharian aku bersamanya, membuat semua keluarganya cemburu pada ku karena sisy hanya bermain bersamaku. sampai-sampai ia minta papahnya untuk tinggal bersama aku dan dia. jelas aku syok, anak itu ada-ada saja kelakuannya. masih kecil saja sudah banyak bertingkah yang membuat semua orang kaget, entah apa yang akan terjadi nanti seletah besar. 
"sisy, papah sama mamah engga bisa tinggal sama-sama sayang, tapi mamah janji akan selalu ketemu sisy, setiap hari." kataku tersenyum. papahnya hanya mengiyakan saja.

"Va, Mas mau tanya satu hal sama kamu," katanya saat aku menidurkan sisy di kamarku.
"apa mas?" kataku bersandar pada kursi dan mengecilkan volume tv.
"kamu sayang sisy ?" tanyanya.
"Mas ini, itu bukan ha, tapi pertanyaan yang menurut ku bodoh. ya jelas aku sayang padanya mas, kenapa sih tanya itu?" kataku menatapnya, melihat ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. "kenapa mas? ko diem?" kataku lagi.
dia memalingkan mukanya lalu, diam. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. mas hanya pengen tahu saja." katanya lalu diam lagi. aku bingung, sebenarnya tujuan dia menanyakan hal itu pada ku apa ya? 'bathinku. aku juga ikut diam dan mataku terpusat pada berita di tv, dan tanpa sadar aku menatap mas vito yang sejak dia bertanya pada ku diam saja.
"Kamu kanapa Va? liat mas sampe kaya gitu." katanya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"enggaa apa-apa mas, cumaa bingung aja dari tadi mas diem aja. sariawan?" celetuk ku. dia tertawa.
"kamu ini ada ada aja deh. engga tadi tu mas cuma lagi bingung aja." katanya mengelus kepalaku. aku malah makin bingung, seharusnyakan aku yang bingung bukan dia. ckckckckck
"Mas mencintai kamu, va." katanya tiba-tiba. membuat jantungku berdegup kencang. astaga! dia bilang sayang sama aku. mimpi ga ya ? 'harapku.
"kamu mau kan jadi mamahnya sisy beneran?" katanya lagi menatap dan menggenggam tanganku. "mas mau kamu jawab va. mas berharap sama kamu, " katanya mengharapkan.
 jujur aku bingung, bahkan mungkin ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini setelah sekian lama aku memutuskan untuk sendiri. Mas vito terus menatapku berharap akan jawabanku.
"Mas," kataku pelan. "aku minta waktu buat jawab, buat ku ini pilihan yang engga sembarangan." lanjutku. dengan tatapan kecewa dia berusaha tersenyum untukku. lalu dia mengusap kepala ku lembut, "mas tahu kamu pasti bilang gitu,va." katanya menatapku lagi lalu diam dan menghembuskan nafas berat kemudian menyandarkan kepalanya ke sofa.
'subhanallah, dia memintaku untuk jadi ibu dari anaknya, aku mencintai anaknya, bahkan aku juga mencintainya dan menyayangi keluarganya. Ya Allah Ya Robb, berikan aku jawaban. ini pilihan sulit untukku.' bathinku
ku usap lembut tangannya, berharap dia tidak kecewa padaku karena ucapanku tadi. dia tersenyum, lalu memelukku. "Mas engga akan maksa kamu ko, tenang aja. " ucapnya sambil mengusap kepalaku dan berusaha tersenyum, mengecup rambutku lalu melepaskan pelukannya.
"aku mau jadi mamah sisy, Mas." ucapku. "Aku mencintai kamu, juga sisy." lanjutku. Mas vito langsung memeluk dan mengecup keningku, tanpa sadar ia meneteskan air matanya. 
untuk sisy mungkin ini kado ulang tahun ke-2nya, apa yang dia inginkan untuk tinggal bersamaku dan papahnya terwujud. kalau saja anak ini sudah besar dan mengerti mungkin dia utarakan isi hatinya.. :) 
acara pernikahanku di gelar bersamaan dengan hari ulang tahun sisy, anakku. aku adalah kado untuk sisy kecil, mamah untuk sisy kecil. anak yang selama ini memanggilku mamah, anak yang selalu membuat aku sulit menjauh darinya. aku mencintai sisy dan mas vito, aku menyayangi mereka semua ..
kebahagiaan ku bersama mereka kini, merekalah kebahagiannku selamanya. :)