Malam itu di depan komplek tempat tinggalku, aku mendekati kerumunan orang-orang, "ada apa mang udin?" tanya ku pada salah satu pedagang di komplek ku itu. "itu neng, ada yang digebukin sama preman-preman yang waktu itu." katanya serada merinding. aku dekati kerumunan orang itu, makin dekat dan, "astagfirullah, Pak Vito. saya kenal dia, tolong bantu bawa kerumah saya." kataku kaget melihat siapa yang digebukin preman-preman itu.
Sesampainya dirumah ku, langsung ku ambil air es untuk mengompres memar di mukanya Pak vito. dia bos ku, aku sedang training di kantornya. "bapak ko bisa ada disini?" tanya ku serada khawatir sambil terus mengompres wajahnya memarnya. "saya hanya berjalan-jalan saja, " katanya singkat. Bos ku ini memang sangat diam, bahkan tampak jarang senyum. seperti menyimpan luka di hati , seperti orang patah hati.
"Neng Iva, itu mobil Bapak ini tadi Mang hasan bawa kesini, ini kunci mobilnya pak." kata mang hasan satpam komplek.
"makasih ya mang." kata ku mengambil kunci mobil dari tangan mang hasan. "bentar ya pak, saya tinggal." kata ku pada Pak Vito.
setelah aku mengganti pakaianku, aku langsung membawa Pak vito ke mobilnya dan ku antar kan pulang.
"rumah bapak dimana ? saya antar bapak pulang," kataku saat di mobil berusaha tersenyum tapi dia malah cemberut, menyebalkan.
"terus saja, nanti belok kiri, lurus, belok kanan, lurus, nanti belok itu rumah saya."katanya tanpa ekspresi. aku menurut saja, karena dia bos ku. ku lajukan mobil sesuai yang dia katakan padaku tadi, dan akhirnya dia memintaku untuk membelokan mobilnya kesebuah rumah yang nampak luar sangat bersih dan rapih.
"ayo masuk," katanya. aku mengikutinya sambil memapah tubuhnya yang kurus tapi berat sekali untukku.
"astagfirullah, vito. kamu berantem nak ?" tanya wanita setengah baya panik.
"engga ko mah, tadi ketemu preman terus ya gini jadinya." katanya lalu duduk "ini iva, anak training yang aku ceritain ke mamah. dia yang bantu vito tadi, dia tinggal di tempat vito dikeroyok." katanya datar. "sisy mana mah ?" katanya lagi. Sisy ? siapa ya ?
"itu lagi disuapin sama bibi, dari tadi engga mau makan. mamah bingung deh," katanya sambil menyodorkan minuman padaku dan anaknya Pak vito.
"papaah .." suara imut itu membuatku berbalik dan ingin memeluknya. lucu sekali, cantik.
"sini sayang, hmm. anak papah ko engga mau makan sih ?" katanya memanja pada anak kecil itu.
"sini sama tante makannya, mau ?" kataku begitu saja. anak itu menatapku lalu turun dari pelukan papahnya dan mendekati aku mimintaku untuk menggendongnya, "sini, sama tante. yeeeeyyy .." kataku senang dan memangkunya, lalu ku suapi anak itu, lahap sekali. sampai-sampai semua orang menatapku. aku juga bingung dia mau dekat dengan orang yang bahkan baru a temui malam ini.
"makasih ya va . kamu bukan cuma bantu vito, tapi bantu sisy makan juga, sampai lahap dan langsung tidur." kata wanita setengah baya yang di panggil mamah itu.
"sama-sama bu, saya juga sebenernya engga suka anak kecil tapi waktu liat sisy pengen banget peluk anak itu, " kataku tersenyum mengingat aku tak suka anak kecil.
banyak bicara aku dengan ibu itu, sangat ramah. aku juga bertemu ayahnya pak vito, kakak perempuannya yang ternyata seorang dokter di rumah sakit yang sering aku datangi.
pagi ini aku harus bangun lebih awal, aku harus mengantarkan mobil yang pak vito pinjamkan kepadaku semalam untuk pulang. sholat subuh, beres-beres rumah, mandi, sarapan dan berangkat. oh ya, aku tinggal jauh dari orang tuaku sejak kuliah, aku tinggal dirumah ini bersama kakakku, tapi semenjak ia menikah aku jadi tinggal sendirian dirumah pemberian ayahku ini.
tiin tiinn ..
suara klakson mobil di halaman rumahku. siapa pagi-pagi gini datang? 'batinku.
pak vito dan sisy? ada apa ini ?
"Pak, sisy ? ada apa pagi-pagi sudah datang? saya kan akan mengantarkan mobil bapak kerumah bapak?" kataku agak syok melihat mereka sudah bertamu pagi-pagi.
"sisy nyari kamu dari bangun tidur tadi." katanya memberikan anak itu pada ku. aku keheranan. "saya juga engga ngerti kenapa kamu yang dia inget bangun tidur tadi, biasanya juga dia langsung ke kamar saya mencari saya." katanya serada cemburu anaknya mencariku. aku masih juga keheranan. anak itu memelukku erat. ku persilahkan duduk dan ku bawakan minuman hangat ke ruang tamu untuk tamuku pagi ini. masih dalam keadaan keheranan aku terus menatap kedua orang yang kini ada dihadapanku.
"kamu bingung, saya apa lagi." katanya menyeruput teh hangat. anak kecil itu terus dekat-dekat denganku. lalu kutanyai dia mengapa mencariku? dia hanya memelukku, ku tanyai lagi mengapa dia memelukku, dia semakin erat memelukku. aku mencoba meminta penjelasan pada papahnya, dia juga tidak mengerti. aku pasrah, anak ini menyukaiku sepertinya.
seharian di tempat ku bekerja anak itu menemaniku, manis sekali sikapnya, dia bahkan tidak mengganguku bekerja, papahnya yang sesekali masuk ruangannku pun nampak bingung dengan sikap anaknya itu. bukan, bukan hanya aku dan papahnya yang keheranan melihat anak itu, tapi pegawai sampai satpam dan keluarganya yang datang ke kantor karena khawatir pada anak itu kehaeranan, jangan tanya aku, ku mohon .
anak itu hanya duduk memainkan mainan yang dia bawa tadi kerumahku, dan memeluk pigletku yang dia ambil dari kamarku. aku tak mengerti mengapa anak itu hanya diam, tidak menangis bosan, mengantuk atau pingin mimi. bahkan diajak pulang oleh omanya sama ia tidak menggubris. anak itu hanya senyum lalu asyik memainkan boneka dan mainan yang ia bawa, lucu sekali.
"sisy makan yu, tante laper nih, mainannya udahan dulu." kataku duduk disampingnya dan menggendongnya mengajak anak itu makan.
"cici mau itu," tunjuknya setelah makan di cafetariia sebelah kantorku. Es krim. aku suka es krim.
"cici mau itu? tante juga mau donk." kataku. saat memilih es krim pak vito menatapku dan anaknya,
"kalian kompak banget sih?" katanya agak cemburu anaknya lebih dekat padaku. sebenarnya aku agak tak enak hati mendengar ucapannya, tapi mau bagaimana anaknya mengikutiku saja.
"sisy pulang sama papah ya, besok kita main lagi." kataku saat jam pulang kerja. sisi diam menatap papahnya, lalu memelukku dan turun dari pangkuanku. lega rasanya anak itu mau pergi dengan papahnya.
"saya antar kamu pulang, va. sisy pasti seneng pulang bareng kamu," katanya menggendong anaknya.
"engga pak, makasih. nanti kalau saya ikut bapak, nanti sisy mau ikut saya turun lagi." kataku seraya tertawa kecil. ia berpikir lalu mengangguk.
"Iya ya benar. ya sudah, hati-hati ya va." katanya, "dadah sama tante sayang," lanjutnya, anak itu mendadahi aku, senang sekali rasanya aku pada anak itu.
hari ini adalah sebulan aku dekat dengan keluarga bos ku dan hari terakhirku training dan menunggu keputusan dari Bos ku itu. anak itu sudah bisa bicara lantang meski kadang tak jelas, anak usia 1 tahun setengah itu bahkan sering bermalam dirumahku, dan setiap hari libur (sabtu-minggu) Pak vito selalu mengajakku pergi bersama anaknya itu, ibunda pak vito pun sering datang kerumahku untuk menjenguk aku dan cucunya itu juka bermalam dirumahku. sudah seperti keluarga sendiri bagiku.
"cici, mau tante .." katanya di telpon saat papahnya menelponku sebelum sisy tidur.
selalu setiap malam menelpon ku, sampai-sampai kadang aku sengaja tidak mengangkatnya dan pernah aku pura-pura tidur dan tidak mendengar suara telpon, sisy datang kerumahku malam-malam. dibuat pusing aku dengan keadaan seperti ini.
sampai suatu waktu saat aku menengok anak centil itu dirumahnya, celoteh anak-anak dari kakak-kakanya Pak vito itu menghiasi suasana rumah itu, tiba-tiba ..
"mamah .." panggilnya. aku menatap anak yang ada dipangkuanku itu, terharu sekali aku di panggil mamah oleh anak itu, bahkan keluarganya mencoba menjelaskan kalau aku ini bukan mamahnya tapi tantenya, ia masih saja tetap memanggilku mamah. banyak kejadian-kejadian yang baut aku terharu setiap bersama anak itu, aku mulai menyayanginya, sejak saat itu ia selalu memanggil ku mamah. bahkan saat aku memutuskan untuk tidak bekerja lagi di tempat Pak vito anak itu selalu mencariku dan memanggilku mamah.
"Va, sisy sakit." kata Mas Vito. sejak dekat dengan anaknya dia memintaku memanggilnya Mas.
"Sakit apa mas? dimana sisy sekarang?" tanya ku khawatir.
Mas Vito menjelaskan setelah beberapa minggu ini setelah aku tidak menemuinya karena sibuk mengurus bisnis di cafee yang baru saja ku jalani itu, ia selalu mencariku. beberapa hari belakangan ia menangis ingin bertemu dengan ku tapi aku sedang di luar kota, makanya ia jadi jatuh sakit. demi bertemu anak itu, ku tinggalkan pekerjaanku hari ini.
melihat anak yang belakangan aku kenal sangat centil dan lucu itu terbaring di tempat tidurnya menungguku datang, lalu ku peluk dia, panas tubuhnya buat aku sedih, aku merasa bersalah sekali berminggu-minggu aku tidak menemuni anak ini. saking terharunya aku meneteskan air mata, apalagi saat dia memanggilku mamah, rasanya hatiku ini campur aduk..
"hmm, badanya panas. udah makan sayang?" tanyaku padanya. dia hanya menggeleng. sedih hatiku melihat keadaannya.
"dia ga mau makan kalau bukan kamu yang suapin va," kata Mas vito masuk dan memberikan ku semangkuk bubur untuk sisy. lalu tanpa banyak bicara ku suapin anak centil itu, ya seperti biasanya ia selalu lahap setiap kali aku yang suapi. lalu dia ku suruh istirahat lagi, dan aku berjanji tidak akan meninggalkannya sampai dia bangun nanti. dalam pelukan Mas vito aku menangis tak kuasa jika terus menjalani semua yang seharusnya tidak terjadi.
setelah beberapa hari sisy terbaring di kamarnya, kini dia ada di kantorku, menemaniku mengerjakan pekerjaan yang sempat aku tinggalkan. dia tampak kurus sekali setelah sakit kemarin, tapi aku yakin, dia pasti tumbuh lagi menjadi anak centil yang chubby. seharian aku bersamanya, membuat semua keluarganya cemburu pada ku karena sisy hanya bermain bersamaku. sampai-sampai ia minta papahnya untuk tinggal bersama aku dan dia. jelas aku syok, anak itu ada-ada saja kelakuannya. masih kecil saja sudah banyak bertingkah yang membuat semua orang kaget, entah apa yang akan terjadi nanti seletah besar.
"sisy, papah sama mamah engga bisa tinggal sama-sama sayang, tapi mamah janji akan selalu ketemu sisy, setiap hari." kataku tersenyum. papahnya hanya mengiyakan saja.
"Va, Mas mau tanya satu hal sama kamu," katanya saat aku menidurkan sisy di kamarku.
"apa mas?" kataku bersandar pada kursi dan mengecilkan volume tv.
"kamu sayang sisy ?" tanyanya.
"Mas ini, itu bukan ha, tapi pertanyaan yang menurut ku bodoh. ya jelas aku sayang padanya mas, kenapa sih tanya itu?" kataku menatapnya, melihat ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. "kenapa mas? ko diem?" kataku lagi.
dia memalingkan mukanya lalu, diam. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. mas hanya pengen tahu saja." katanya lalu diam lagi. aku bingung, sebenarnya tujuan dia menanyakan hal itu pada ku apa ya? 'bathinku. aku juga ikut diam dan mataku terpusat pada berita di tv, dan tanpa sadar aku menatap mas vito yang sejak dia bertanya pada ku diam saja.
"Kamu kanapa Va? liat mas sampe kaya gitu." katanya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"enggaa apa-apa mas, cumaa bingung aja dari tadi mas diem aja. sariawan?" celetuk ku. dia tertawa.
"kamu ini ada ada aja deh. engga tadi tu mas cuma lagi bingung aja." katanya mengelus kepalaku. aku malah makin bingung, seharusnyakan aku yang bingung bukan dia. ckckckckck
"Mas mencintai kamu, va." katanya tiba-tiba. membuat jantungku berdegup kencang. astaga! dia bilang sayang sama aku. mimpi ga ya ? 'harapku.
"kamu mau kan jadi mamahnya sisy beneran?" katanya lagi menatap dan menggenggam tanganku. "mas mau kamu jawab va. mas berharap sama kamu, " katanya mengharapkan.
jujur aku bingung, bahkan mungkin ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini setelah sekian lama aku memutuskan untuk sendiri. Mas vito terus menatapku berharap akan jawabanku.
"Mas," kataku pelan. "aku minta waktu buat jawab, buat ku ini pilihan yang engga sembarangan." lanjutku. dengan tatapan kecewa dia berusaha tersenyum untukku. lalu dia mengusap kepala ku lembut, "mas tahu kamu pasti bilang gitu,va." katanya menatapku lagi lalu diam dan menghembuskan nafas berat kemudian menyandarkan kepalanya ke sofa.
'subhanallah, dia memintaku untuk jadi ibu dari anaknya, aku mencintai anaknya, bahkan aku juga mencintainya dan menyayangi keluarganya. Ya Allah Ya Robb, berikan aku jawaban. ini pilihan sulit untukku.' bathinku
ku usap lembut tangannya, berharap dia tidak kecewa padaku karena ucapanku tadi. dia tersenyum, lalu memelukku. "Mas engga akan maksa kamu ko, tenang aja. " ucapnya sambil mengusap kepalaku dan berusaha tersenyum, mengecup rambutku lalu melepaskan pelukannya.
"aku mau jadi mamah sisy, Mas." ucapku. "Aku mencintai kamu, juga sisy." lanjutku. Mas vito langsung memeluk dan mengecup keningku, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
"Mas ini, itu bukan ha, tapi pertanyaan yang menurut ku bodoh. ya jelas aku sayang padanya mas, kenapa sih tanya itu?" kataku menatapnya, melihat ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. "kenapa mas? ko diem?" kataku lagi.
dia memalingkan mukanya lalu, diam. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. mas hanya pengen tahu saja." katanya lalu diam lagi. aku bingung, sebenarnya tujuan dia menanyakan hal itu pada ku apa ya? 'bathinku. aku juga ikut diam dan mataku terpusat pada berita di tv, dan tanpa sadar aku menatap mas vito yang sejak dia bertanya pada ku diam saja.
"Kamu kanapa Va? liat mas sampe kaya gitu." katanya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"enggaa apa-apa mas, cumaa bingung aja dari tadi mas diem aja. sariawan?" celetuk ku. dia tertawa.
"kamu ini ada ada aja deh. engga tadi tu mas cuma lagi bingung aja." katanya mengelus kepalaku. aku malah makin bingung, seharusnyakan aku yang bingung bukan dia. ckckckckck
"Mas mencintai kamu, va." katanya tiba-tiba. membuat jantungku berdegup kencang. astaga! dia bilang sayang sama aku. mimpi ga ya ? 'harapku.
"kamu mau kan jadi mamahnya sisy beneran?" katanya lagi menatap dan menggenggam tanganku. "mas mau kamu jawab va. mas berharap sama kamu, " katanya mengharapkan.
jujur aku bingung, bahkan mungkin ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini setelah sekian lama aku memutuskan untuk sendiri. Mas vito terus menatapku berharap akan jawabanku.
"Mas," kataku pelan. "aku minta waktu buat jawab, buat ku ini pilihan yang engga sembarangan." lanjutku. dengan tatapan kecewa dia berusaha tersenyum untukku. lalu dia mengusap kepala ku lembut, "mas tahu kamu pasti bilang gitu,va." katanya menatapku lagi lalu diam dan menghembuskan nafas berat kemudian menyandarkan kepalanya ke sofa.
'subhanallah, dia memintaku untuk jadi ibu dari anaknya, aku mencintai anaknya, bahkan aku juga mencintainya dan menyayangi keluarganya. Ya Allah Ya Robb, berikan aku jawaban. ini pilihan sulit untukku.' bathinku
ku usap lembut tangannya, berharap dia tidak kecewa padaku karena ucapanku tadi. dia tersenyum, lalu memelukku. "Mas engga akan maksa kamu ko, tenang aja. " ucapnya sambil mengusap kepalaku dan berusaha tersenyum, mengecup rambutku lalu melepaskan pelukannya.
"aku mau jadi mamah sisy, Mas." ucapku. "Aku mencintai kamu, juga sisy." lanjutku. Mas vito langsung memeluk dan mengecup keningku, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
untuk sisy mungkin ini kado ulang tahun ke-2nya, apa yang dia inginkan untuk tinggal bersamaku dan papahnya terwujud. kalau saja anak ini sudah besar dan mengerti mungkin dia utarakan isi hatinya.. :)
acara pernikahanku di gelar bersamaan dengan hari ulang tahun sisy, anakku. aku adalah kado untuk sisy kecil, mamah untuk sisy kecil. anak yang selama ini memanggilku mamah, anak yang selalu membuat aku sulit menjauh darinya. aku mencintai sisy dan mas vito, aku menyayangi mereka semua ..
kebahagiaan ku bersama mereka kini, merekalah kebahagiannku selamanya. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar