Kamis, 29 November 2012

Revaan ..


REVAAN ..

Hampir setiap hari aku berharap, Tuhan akan bantu aku menyelesaikan semua masalah ini. Rasa sakit hati ini biarlah ku jadikan pelajaran untuk ku di masa depan, dimana aku harus memperbaiki kesalahan yang pernah ku lakukan sebelumnya.
Setelah kejadian ini aku harus bangkit, aku harus berusaha sekuat tenaga ku untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, dimata ku, orang tua ku, mereka dan Sang Pencipta. Belajar dari kesalahan memang sulit diawal tapi aku yakin suatu saat aku berhasil menjadikan semua ini sebagai kenangan belaka.
Layaknya artis di televisi, mereka memerankan karakter yang bukan dirinya. Mungkin akan lebih baik bila aku seperti mereka yang hidup dalam diri yang bukan dirinya. Kini aku bukanlah orang yang bisa percaya pada janji manis yang di ucapkan setiap Pria.
“Sy, masih disini? Mba pikir kamu udah pulang bareng Deva.” Kata Mbak Westi
“Aku males pulang cepet, Mbak .. “ ucapku meneguk moccacino terakhirku.
“Kalo gitu ikut Mbak Westi belanja aja, Mbak juga males pulang cepet.” Katanya senyum-senyum
“Aku engga percaya Mbak mau belanja, palingan Mbak ke CafĂ© itu lagi en makan-makan sama temen-temen Mbak yang berisik itu.” Aku menenggelamkan kepalaku diantara tumpukan berkas Naskah-naskah yang akan ku baca nantinya.
“hehehehe ketauan deh .. eh tapi Mbak seriusan deh kamu engga bakal nyesel ikut Mbak hari ini.” Senyumnya membuat ku semakin ragu
“Mbak duluan deh, bentaran lagi aku pulang kok.” Aku melemparkan senyuman agar Mbak Westi tidak lagi memaksaku ikut dengannya.
“Ya udah, kamu ati-ati, Mbak duluan ya Sisy …” ia melambaikan tangannya yang berisi itu.
Mbak Westi adalah Atasan ku, ia seorang Editor di Kantor ku. Aku menyukainya, dia menyenangkan saat aku kesulitan dalam pekerjaanku ia pasti turun tangan membantu ku, yang paling tidak kusukai darinya adalah ketika ia mengajak ku pergi ke suatu tempat yang isinya hanya Makanan dan orang-orang yang tak kalah heboh dari Mbak Westi, Astagaaa apa setelah ia menikah ia masih akan seperti ini?
Menikah .. Ya, ku rasa semua orang akan menikah. Tapi tidak untuk ku, tidak untuk saat ini. Rasa yang kemarin saja masih begitu terasa menikam jantungku. Orang yang ku anggap dapat membimbing ku dalam bahtera rumah tangga ternyata telah bertunangan jauh sebelum dengan ku. Sakitnya mungkin tak seberapa di banding dengan teriris sebilah pisau, hanya bilamana aku teringat akan janjinya yang telah ia ingkari ingin sekali aku melemparnya kedalam jurang.
“Sisy ?” seseorang menyerukan namaku
“ya?” aku rasa aku tidak mengenal wajahnya
“Revan. Revan Hardian, kita pernah satu kelas waktu kuliah dulu.”
“Revan?” aku berusaha mengingat. “Oh, ya Evan Jurnal 3 kan? Oke oke inget sorry sorry ..”
“It’s oke. Lu kan memang rada pelupa kalo suruh inget orang..” ia meledek ku.
“Hahaha iya, sorry .. “ kata ku
Baik, aku benar-benar akan pulang terlambat sepertinya, Revan mengajak ku makan malam. Nostalgia katanya.
“gue bener-bener engga nyangka pulang ke Pulau Jawa ketemu sama Lu lagi. Gimana kabar Risa, Wati dan temen-temen yang lain ya?” celotehnya
“Entah yaa, gue juga lama engga ketemu mereka.” Kataku
“Sudah menikah? Atau akan menikah dalam waktu dekat?” pertanyaan nya membuat ku seradaa emosi.
“Kenapa? Gue salah ucap?” katanya lagi
“Engga, engga apa-apa. Mungkin kita engga usah ngomongin itu sekarang.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan itu.
“Sorry, gue rasa obrolan tadi buat lu engga nyaman. “ aku hanya tersenyum saat ia mengucapkannya dan segera mengalihkan obrolannya.

***
Malam ini rasanya sangat dingin sekali setelah hujan mengguyur bumi kita yang mulai gersang ini. Revan mengantar ku pulang kerumah karena ia khawatir kalau aku pulang naik taksi. Ia masih sama seperti 2 tahun yang lalu saat Wisuda. Stay Cool J
“Besok-besok aja gue mampir ke rumah lu nya Sy. Ini udah malem, engga enak sama bokap lu. Bye.” Ucapnya saat ku tawarkan untuk sekedar mampir.
“Bye, ati-ati, van.” Aku melaibaikan tangan ku.
Saatnya istirahat, aku sudah lelah sekali. Dan ingin segera besok pagi, karena aku harus menyelesaikan pekerjaan ku, mencari naskah cerpen yang akan majalah-ku posting.
Dreeett .. dreeet … ponsel ku bergetar.
021-
Met istirahat, sy.
Besok aku jemput di kantor.

                  22.00 23-11-2010

Radit. Kulemparkan ponsel ku, lalu tidur. Aku tidak peduli Radit akan datang atau tidak. Aku membencinya.

***

“Sy, ada yang nyari noh, katanya mau jemput.” Mbak Westi meneriaki ku
“Loh emangnya udah waktunya pulang ya, Mbak?” Tanya ku dari balik meja ruang kerja ku
“Belum sih, tapi dia nunggu tuh di lobby.” Katanya lagi
Malas-malasan aku berjalan menuju lobby. Radit. Ya, tadi malam dia memang bilang akan menjemputku, tapi tak ku kira ia benar-benar akan datang.
“sibuk banget ya, sampe-sampe aku harus nunggu cukup lama disini?” omelnya.
“anda bukan siapa-siapa saya, jadi anda tidak berhak mengomel engga jelas disini.”
“Sy, ini salah paham, aku minta maaf. Aku akan tetap menikahi kamu, jangan percaya omongan orang sayang, mereka sirik sama kita.” Ucapnya ngebaik-baikin aku
“Baik, jika sudah tidak ada yang akan anda bicarakan segera tiinggalkan kantor kami karena saya sedang sibuk.” Aku berbalik dan ..
“Menikah lah dengan ku, sy ..” teriaknya sampai-sampai semua orang di lobby menatap kearahku termasuk Revan yang tiba-tiba muncul.
“Pak Satpam tolong usir orang itu, dia  mungkin salah orang.” Aku bergegas meninggalkan lobby setelah meminta satpam kantor menggeret keluar radit.
Taman kantor satu-satunya tempat aku bisa menenggelamkan perasaan kacau dalam hati ku. Kurasakan ada yang menatapku dari kejauhan. Revan, ia mendekat kearah ku.
“jadi orang itu yang buat teman gue kaya gini ya ? jangan pendem perasaan sakit lu, sy. Nanti bisa stress ..” ucap revan
“Gue udah cukup stress ngehapadin dia, van. Jadi gue mohon jangan bahas dia ato masalah ini lagi.” Kataku hendak beranjak. Revan menahan lengan ku, lalu menatapku dan mengajak ku pergi keluar kantor. Sepanjang perjalanan aku tak mengucapkan sepatah katapun beggitu juga REvan. Ia juga terdiam.
“Sorry, harusnya gue engga bawa lu keluar kantor.” Ucapnya tiba-tiba
“engga papa, gue memang butuh keluar secepatnya dari kantor karena radit masih disana. Iyakan? Makanya lu bawa gue keluar lewat samping.” Kata ku. Ia hanya tersenyum.
“khawatir dia melakukan hal yang ngerugiiin lu, makanya tadi gue ijin bawa lu keluar dari kantor.” Sesekali ia menatapku, aku merasakannya ujung matanya mengarah kepada ku.

“Udah malem, lu istirahat sana, besok pagi gue jemput yah, gue udah bilang sama bokap lu kok, lu emang harus tetep diawasin bokap lu ya, sy. Hahahaha” katanya tertawa meledek
Ku dorong saja badannya sampai terjungkal ke bawah, lalu kami tertawa. Siang tadi ia mengantar ku pulang, dan kami malah asyik main playstations dengan adik ku. Hari ini begitu menegangkan dan menyenangkan untuk ku, Revan mengerti posisi dan keadaanku saat ini.
“gue pulang, lu istirahat. Daah, Sisy .. sampe ketemu besok.” Senyumnya membuat hati ku bergetar, dia mengecup keningku dan mengelus rambutku kemudian lalu melajukan mobilnya dan menghilang di belokan gang rumah ku.
Revaan ..
Revaan Hardian .. J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar