REVAAN ..
Hampir
setiap hari aku berharap, Tuhan akan bantu aku menyelesaikan semua masalah ini.
Rasa sakit hati ini biarlah ku jadikan pelajaran untuk ku di masa depan, dimana
aku harus memperbaiki kesalahan yang pernah ku lakukan sebelumnya.
Setelah
kejadian ini aku harus bangkit, aku harus berusaha sekuat tenaga ku untuk
mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, dimata ku, orang tua ku, mereka
dan Sang Pencipta. Belajar dari kesalahan memang sulit diawal tapi aku yakin
suatu saat aku berhasil menjadikan semua ini sebagai kenangan belaka.
Layaknya
artis di televisi, mereka memerankan karakter yang bukan dirinya. Mungkin akan
lebih baik bila aku seperti mereka yang hidup dalam diri yang bukan dirinya.
Kini aku bukanlah orang yang bisa percaya pada janji manis yang di ucapkan
setiap Pria.
“Sy,
masih disini? Mba pikir kamu udah pulang bareng Deva.” Kata Mbak Westi
“Aku
males pulang cepet, Mbak .. “ ucapku meneguk moccacino terakhirku.
“Kalo
gitu ikut Mbak Westi belanja aja, Mbak juga males pulang cepet.” Katanya
senyum-senyum
“Aku
engga percaya Mbak mau belanja, palingan Mbak ke Café itu lagi en makan-makan
sama temen-temen Mbak yang berisik itu.” Aku menenggelamkan kepalaku diantara
tumpukan berkas Naskah-naskah yang akan ku baca nantinya.
“hehehehe
ketauan deh .. eh tapi Mbak seriusan deh kamu engga bakal nyesel ikut Mbak hari
ini.” Senyumnya membuat ku semakin ragu
“Mbak
duluan deh, bentaran lagi aku pulang kok.” Aku melemparkan senyuman agar Mbak
Westi tidak lagi memaksaku ikut dengannya.
“Ya
udah, kamu ati-ati, Mbak duluan ya Sisy …” ia melambaikan tangannya yang berisi
itu.
Mbak
Westi adalah Atasan ku, ia seorang Editor di Kantor ku. Aku menyukainya, dia
menyenangkan saat aku kesulitan dalam pekerjaanku ia pasti turun tangan
membantu ku, yang paling tidak kusukai darinya adalah ketika ia mengajak ku
pergi ke suatu tempat yang isinya hanya Makanan dan orang-orang yang tak kalah
heboh dari Mbak Westi, Astagaaa apa setelah ia menikah ia masih akan seperti
ini?
Menikah
.. Ya, ku rasa semua orang akan menikah. Tapi tidak untuk ku, tidak untuk saat
ini. Rasa yang kemarin saja masih begitu terasa menikam jantungku. Orang yang
ku anggap dapat membimbing ku dalam bahtera rumah tangga ternyata telah
bertunangan jauh sebelum dengan ku. Sakitnya mungkin tak seberapa di banding
dengan teriris sebilah pisau, hanya bilamana aku teringat akan janjinya yang
telah ia ingkari ingin sekali aku melemparnya kedalam jurang.
“Sisy
?” seseorang menyerukan namaku
“ya?”
aku rasa aku tidak mengenal wajahnya
“Revan.
Revan Hardian, kita pernah satu kelas waktu kuliah dulu.”
“Revan?”
aku berusaha mengingat. “Oh, ya Evan Jurnal 3 kan? Oke oke inget sorry sorry
..”
“It’s
oke. Lu kan memang rada pelupa kalo suruh inget orang..” ia meledek ku.
“Hahaha
iya, sorry .. “ kata ku
Baik,
aku benar-benar akan pulang terlambat sepertinya, Revan mengajak ku makan
malam. Nostalgia katanya.
“gue
bener-bener engga nyangka pulang ke Pulau Jawa ketemu sama Lu lagi. Gimana
kabar Risa, Wati dan temen-temen yang lain ya?” celotehnya
“Entah
yaa, gue juga lama engga ketemu mereka.” Kataku
“Sudah
menikah? Atau akan menikah dalam waktu dekat?” pertanyaan nya membuat ku
seradaa emosi.
“Kenapa?
Gue salah ucap?” katanya lagi
“Engga,
engga apa-apa. Mungkin kita engga usah ngomongin itu sekarang.” Aku berusaha mengalihkan
pembicaraan itu.
“Sorry,
gue rasa obrolan tadi buat lu engga nyaman. “ aku hanya tersenyum saat ia
mengucapkannya dan segera mengalihkan obrolannya.
***
Malam
ini rasanya sangat dingin sekali setelah hujan mengguyur bumi kita yang mulai
gersang ini. Revan mengantar ku pulang kerumah karena ia khawatir kalau aku
pulang naik taksi. Ia masih sama seperti 2 tahun yang lalu saat Wisuda. Stay
Cool J
“Besok-besok
aja gue mampir ke rumah lu nya Sy. Ini udah malem, engga enak sama bokap lu.
Bye.” Ucapnya saat ku tawarkan untuk sekedar mampir.
“Bye,
ati-ati, van.” Aku melaibaikan tangan ku.
Saatnya
istirahat, aku sudah lelah sekali. Dan ingin segera besok pagi, karena aku
harus menyelesaikan pekerjaan ku, mencari naskah cerpen yang akan majalah-ku
posting.
Dreeett
.. dreeet … ponsel ku bergetar.
021-
Met
istirahat, sy.
Besok
aku jemput di kantor.
22.00
23-11-2010
Radit.
Kulemparkan ponsel ku, lalu tidur. Aku tidak peduli Radit akan datang atau
tidak. Aku membencinya.
***
“Sy,
ada yang nyari noh, katanya mau jemput.” Mbak Westi meneriaki ku
“Loh
emangnya udah waktunya pulang ya, Mbak?” Tanya ku dari balik meja ruang kerja
ku
“Belum
sih, tapi dia nunggu tuh di lobby.” Katanya lagi
Malas-malasan
aku berjalan menuju lobby. Radit. Ya, tadi malam dia memang bilang akan
menjemputku, tapi tak ku kira ia benar-benar akan datang.
“sibuk
banget ya, sampe-sampe aku harus nunggu cukup lama disini?” omelnya.
“anda
bukan siapa-siapa saya, jadi anda tidak berhak mengomel engga jelas disini.”
“Sy,
ini salah paham, aku minta maaf. Aku akan tetap menikahi kamu, jangan percaya
omongan orang sayang, mereka sirik sama kita.” Ucapnya ngebaik-baikin aku
“Baik,
jika sudah tidak ada yang akan anda bicarakan segera tiinggalkan kantor kami
karena saya sedang sibuk.” Aku berbalik dan ..
“Menikah
lah dengan ku, sy ..” teriaknya sampai-sampai semua orang di lobby menatap
kearahku termasuk Revan yang tiba-tiba muncul.
“Pak
Satpam tolong usir orang itu, dia
mungkin salah orang.” Aku bergegas meninggalkan lobby setelah meminta
satpam kantor menggeret keluar radit.
Taman
kantor satu-satunya tempat aku bisa menenggelamkan perasaan kacau dalam hati
ku. Kurasakan ada yang menatapku dari kejauhan. Revan, ia mendekat kearah ku.
“jadi
orang itu yang buat teman gue kaya gini ya ? jangan pendem perasaan sakit lu,
sy. Nanti bisa stress ..” ucap revan
“Gue
udah cukup stress ngehapadin dia, van. Jadi gue mohon jangan bahas dia ato
masalah ini lagi.” Kataku hendak beranjak. Revan menahan lengan ku, lalu
menatapku dan mengajak ku pergi keluar kantor. Sepanjang perjalanan aku tak
mengucapkan sepatah katapun beggitu juga REvan. Ia juga terdiam.
“Sorry,
harusnya gue engga bawa lu keluar kantor.” Ucapnya tiba-tiba
“engga
papa, gue memang butuh keluar secepatnya dari kantor karena radit masih disana.
Iyakan? Makanya lu bawa gue keluar lewat samping.” Kata ku. Ia hanya tersenyum.
“khawatir
dia melakukan hal yang ngerugiiin lu, makanya tadi gue ijin bawa lu keluar dari
kantor.” Sesekali ia menatapku, aku merasakannya ujung matanya mengarah kepada
ku.
“Udah
malem, lu istirahat sana, besok pagi gue jemput yah, gue udah bilang sama bokap
lu kok, lu emang harus tetep diawasin bokap lu ya, sy. Hahahaha” katanya
tertawa meledek
Ku
dorong saja badannya sampai terjungkal ke bawah, lalu kami tertawa. Siang tadi
ia mengantar ku pulang, dan kami malah asyik main playstations dengan adik ku. Hari
ini begitu menegangkan dan menyenangkan untuk ku, Revan mengerti posisi dan
keadaanku saat ini.
“gue
pulang, lu istirahat. Daah, Sisy .. sampe ketemu besok.” Senyumnya membuat hati
ku bergetar, dia mengecup keningku dan mengelus rambutku kemudian lalu
melajukan mobilnya dan menghilang di belokan gang rumah ku.
Revaan
..
Revaan
Hardian .. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar